Langsung ke konten utama

Pengantar Kitab Misykat Al-Anwar



Kitab Misykat al-Anwar (Ceruk Cahaya-cahaya)
Karya Hujjatul Islam  Abu Hamid Al Ghazali

Oleh: Muhammad Ali Ridho

Sekitar tahun 2017 al-faqir mengikuti pengajian kitab ini di Pesantren Tebuireng yang diampuh oleh KH. Fahmi Amrullah Hadzik, usai mengaji al-faqir mencoba menterjemahkannya,  berikut hasil terjemahannya:

Muqoddimah (Pendahuluan)

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, Tuhan pelimpahan cahaya-cahaya, pembuka penglihatan (mata hati), pengungkap rahasia-rahasia dan penyibak tirai-tirai. Sholawat serta salam semoga tercurahkan terhadap Nabi Muhammad Saw., Cahaya segala cahaya, pemimpin orang yang senantiasa beramal shaleh, kekasih Dzat yang maha perkasa, pembawa berita gembira dari Dzat yang maha pengampun, penyampai ancaman dari Dzat yang maha penguasa dan pembuka tabir kepalsuan kaum yang durhaka. Demikian pula sholawat dan salam semoga tercurahkan untuk keluarga dan sahabatnya yang baik-baik, yang tersucikan, yang terpilih.

Amma ba'du

Sungguh anda telah memohon kepada saya, wahai saudaraku yang mulia, semoga Allah membimbingku untuk memperoleh kebahagian yang tergabung, mendidiknya untuk naik menuju puncak yang tertinggi, menyinari pandangan hatimu dengan cahaya hakikat, menyucikan hati nuraninya dari segala sesuatu selain yang hak. Anda meminta kepadaku agar mengungkapkan kepadamu rahasia cahaya-cahaya ilahi disertai dengan ta'wil/makna tersembunyi dibalik pengertian harfiyah (dhohir ayat) Al-Quran yang ditilawahkan dan hadis-hadis nabi yang diriwayatkan. Seperti halnya firman Allah:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya,  seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu  bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nur Ayat 35).

Lalu mengapa Allah membuat perumpamaan dengan misykat, kaca, pelita, minyak dan pohon? Demikian pula sabda nabi Muhammad Saw. :

"Allah memiliki 70.000 hijab (tirai penutup) cahaya dan kegelapan. Seandainya Ia menyingkapnya niscaya cahaya-cahaya wajahNya akan membakar siapa saja yang memandangnya."

Sungguh dengan mengajukan permohonan itu anda telah mendaki puncak yang tinggi yang amat sulit. Demikian tingginya sehingga puncaknya tidak bisa dijangkau oleh mata yang memandangnya. Anda telah mengetuk pintu yang terkunci yang hanya bisa dibuka oleh ulama' yang sangat mendalam ilmunnya dan kuat pijakannya.

Kemudian dari itu, tidak semua rahasia dapat diungkapkan dan disebarkan. Tidak semua hakikat boleh ditampakkan dan dijelaskan. Bahkan hati orang-orang merdeka menyimpan berbagai rahasia. Hal ini juga pernah disampaikan oleh seorang 'arif:
"mengungkapkan rahasia ilahi adalah bentuk kekufuran."

Hal ini juga diperjelas oleh Rasulullah, sayyidnya orang terdahulu dan kemudian dalam sabdanya:
  ان من العلم كهيءة المكنون لا يعلمه الا العلماء بالله
Diantara berbagai ilmu ada yang tersembunyi, tidak seorangpun yang dapat mengetahuinya kecuali ulama yang memperoleh ilmu tentang Allah dengan izinNya.

Jika ulama' itu menyampaikan maka tidak akan ada yang bisa mengingkari kecuali orang yang tertipu. Dikarenakan banyaknya orang yang tertipu maka wajib lah menjaga rahasia dari orang-orang yang bermaksud buruk.

Tetapi aku lihat hatimu dilapangkan oleh Allah SWT  dengan nurNya, dibersihkan hatinya dari gelapnya tipuan. Oleh sebab itu sudah selayaknya aku tidak bersikap pelit dengan memenuhi permintaan anda dengan memberikan petunjuk, isyarat terhadap kilatan, penjelasan, tanda -tanda terhadap hakikat-hakikat dan kelembutan.

Sebab khawatiran  perbuatan merahasiakan ilmu dari ahlinya tidaklah lebih kecil keburukannya dari menyebarkannya kepada orang-orang yang bukan ahlinya. Seperti halnya kata seorang penyair:
فمن منح الجهال علما اضاعه# ومن منع المستوجبين فقد ظلم
Barangsiapa memberikan ilmu kepada orang yang tak patut menerimanya sungguh dia telah menyia-nyiakan # Barangsiapa mencegah ilmu dari orang yang pantas menerimanya sungguh ia telah berbuat kedholiman.

Maka puaskanlah dirimu dengan berbagai isyarat singkat,  sebab untuk menyakinkan perkataan dalam kitab ini membutuhkan pengukuhan barbagai usul/dasar dan menguraikan semua fasal-fasal yang terkait, tetapi aku tidak memliki waktu yang cukup dan tidak pula terpusat dalam cita-cita dan pikiranku.

Mafathul qulub, kunci pembuka hati ada di tangan Allah. Ia membukakan jika menghendakinya sesuai dengan kehendakNya. Terkait hal diatas hanya ada tiga  fasal yang akan kami kupas.  Wallahu a'lam bissawab (Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdoa Mengunakan Selain Bahasa Arab dalam Sujud

Beberapa waktu yang lalu saat kegiatan Rutinan Lailatul Ijtima' Pengurus Ranting NU Toronan, usai mengkaji Kitab Risalah Ahli Sunnah Waljamaah, Karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari. Salah satu hadirin mengajukan pertanyaan mengenai hukum seseorang yang berdoa menggunakan bahasa Madura (selain bahasa Arab) ketika sujud di dalam sholat,  Apakah hal tersebut diperbolehkan?  Menanggapi hal tersebut, memang ada keterangan dalam beberapa kitab kuning bahwasanya dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud di dalam sholat, anjuran ini tercatat dalam beberapa kitab hadits diantara hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebagai berikut:  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ Artinya, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Momentum terdekat seorang hamba dan Tuhannya adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa saat itu,’” (HR Musli...

Santri Darul Akhlaq Mengikuti Upacara Bendera Dalam Rangka Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 79.

   Dengan rasa syukur Republik Indonesia sudah memasuki usia yang ke 79 dari kemerdekaannya.   "kita sebagai rakyat Indonesia seharusnya bersyukur atas kemerdekaan ini karena apa? Karena kita hidup di Indonesia, makan di Indonesia, minum di Indonesia, bercocok tanam di Indonesia, mencari nafkah di Indonesia, Indonesia kaya raya akan rempah-rempah dan juga pangan. Dan juga kita wajib bersyukur atas kemerdekaan Indonesia ini karena banyak negara-negara lain belum merdeka seperti halnya Negara Palestina, kita do'akan Negara Palestina semoga cepat merdeka." Dauh beliau.     ulama dan santri merupakan garda terdepan untuk memerdekakan republik Indonesia ini, maka dari itu kita sebagai santri jangan sekali kali melupakan sejarah kemerdekaan Indonesia. JAS MERAH (JANAGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH)     Selamat Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 79 "Nusantara Baru Indonesia Maju".    Oleh: Darul Akhlaq Media  Pamekasan,17 Agustu...